Bahan Organik Mengusir Tikus dan Burung
Gadung dan Sambiloto
Gabungan Gadung dan Sambiloto untuk Mengusir Tikus dan Burung
Beberapa ahli pertanian dan petani tradisional menyatakan bahwa kombinasi gadung (Dioscorea hispida) dan sambiloto (Andrographis paniculata) dapat menghasilkan aroma khas menyerupai bau ular. Aroma ini dipercaya efektif untuk mengusir hama vertebrata seperti tikus dan burung, termasuk burung pipit dan burung emprit, dari area sawah.
Selain itu, menurut sejumlah praktisi pertanian, kombinasi sederhana antara gadung dan brontowali (Tinospora crispa) saja sudah cukup ampuh sebagai bahan dasar pengusir hama. Kedua tanaman ini menghasilkan bau menyengat dan rasa pahit yang tidak disukai hama seperti tikus dan burung. Gadung mengandung senyawa toksik alami, sementara brontowali memperkuat efek pengusir dengan rasa pahitnya. Campuran ini dapat difermentasi maupun digunakan langsung setelah dihancurkan dan dicampur air, lalu disemprotkan di sekitar galengan atau titik-titik rawan hama. Formulasi ini cocok bagi petani yang menginginkan solusi alami dan praktis tanpa tambahan bahan lain seperti tembakau, MOL, atau molase.
Campuran Alternatif
Ada pula versi lain dari ramuan ini, yang mengombinasikan:
- Gadung
- Sambiloto
- Brontowali
- Tembakau kering
- MOL lokal (Mikroorganisme Lokal), seperti humus bawah bambu
- Molase (tetes tebu)
Gabungan ini tidak hanya bersifat pengusir, tetapi juga dapat menstimulasi mikrobiologi tanah jika digunakan dengan benar.
Cara Membuat
- Siapkan masing-masing bahan dengan proporsi seimbang (misalnya 0,5 kg per bahan utama).
- Haluskan gadung, sambiloto, brontowali, dan tembakau kering menggunakan blender atau alat tumbuk.
- Campurkan dengan ± 1 liter MOL lokal dan ± 250 ml molase.
- Fermentasikan dalam wadah tertutup selama 5–7 hari di tempat teduh.
Cara Aplikasi di Sawah
- Setelah fermentasi selesai, encerkan larutan: 1 liter larutan dicampur dengan 5–10 liter air.
- Semprotkan di sekitar galengan, pinggir sawah, dan area yang sering dilewati tikus.
- Dapat juga disemprotkan ke padi menjelang panen untuk mengusir burung.
- Ulangi aplikasi setiap 3–5 hari atau setelah hujan deras.
Perkembangbiakan Tikus Sawah
- Seekor induk tikus betina bisa melahirkan 7–8 anak per kelahiran.
- Dapat melahirkan hingga 6 kali dalam setahun.
- Perkembangbiakan ini menyebabkan populasi meningkat sangat cepat jika tidak dikendalikan.
Burung Pipit dan Burung Emprit sebagai Hama
Burung pipit dan burung emprit adalah hama sekunder pada tanaman padi, khususnya saat fase pengisian bulir hingga panen. Mereka menyerang dalam kawanan besar dan memakan bulir padi matang, yang dapat menyebabkan kerugian hasil panen secara signifikan.
Selain pipit dan emprit, beberapa jenis burung lain yang juga sering menjadi hama di lahan pertanian antara lain burung gereja (Passer domesticus), burung bondol, burung manyar, burung ciblek, dan burung kutilang. Burung-burung ini menyerang saat bulir mulai menguning dan biasanya bergerak dalam kelompok.
Secara umum, burung pipit dan jenis hama burung lainnya dapat bertelur sebanyak 3–8 butir telur per periode bertelur, dan dapat berkembang biak 4 hingga 6 kali dalam setahun tergantung kondisi iklim dan ketersediaan pakan. Ini menyebabkan populasi mereka bisa meningkat pesat dalam musim tanam padi jika tidak dikendalikan secara efektif.
Catatan: Efektivitas ramuan alami ini bisa bervariasi tergantung lokasi, kondisi iklim, dan tekanan hama. Penggunaan disarankan dikombinasikan dengan metode pengendalian hama lainnya.
Comments
Post a Comment